Riyadlus Sholihin Singgung Ketidakseimbangan Dinas Pendidikan-Kebudayaan

- Jurnalis

Sabtu, 18 April 2026 - 15:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025 di DPRD Kota Probolinggo tak hanya menyoroti capaian program, tetapi juga menyentuh persoalan struktur kelembagaan di tingkat Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Anggota Panitia Khusus (Pansus) yang juga Ketua Komisi II, Riyadlus Sholihin, menilai penggabungan urusan pendidikan dan kebudayaan dalam satu dinas belum berjalan ideal. Menurutnya, dua bidang tersebut memiliki karakter berbeda sehingga berpotensi tidak maksimal jika dipaksakan berada dalam satu OPD.

Ia menegaskan bahwa pendidikan merupakan urusan wajib yang seharusnya menjadi fokus utama dalam satu dinas tersendiri. Sementara itu, kebudayaan dinilai lebih tepat dikembangkan bersama sektor lain seperti pariwisata agar lebih optimal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau dilihat dari urusan dan rincian kegiatannya, ini seperti dipaksakan. Pendidikan seharusnya berdiri sendiri, sedangkan kebudayaan bisa dikembangkan bersama pariwisata,” ujarnya.

Riyadlus juga menyoroti ketimpangan perhatian dalam pelaksanaan program. Dengan keterbatasan sumber daya manusia serta besarnya porsi anggaran pendidikan yang mencapai sekitar 20 persen, dinas cenderung lebih fokus pada pendidikan. Di sisi lain, kebudayaan yang hanya mendapat porsi sekitar 5 persen menjadi kurang maksimal.

Tak hanya itu, ia menilai arah program kebudayaan yang dijalankan saat ini justru lebih mengarah ke sektor pariwisata, bukan pada penguatan nilai budaya yang terintegrasi dengan pendidikan.

“Seharusnya kalau digabung, kebudayaan yang dijalankan itu mendukung pendidikan, bukan justru mengarah ke pariwisata. Ini yang perlu jadi evaluasi,” tegasnya.

Sementara itu, dari keterangan Pj Sekda, struktur dinas yang menangani pendidikan dan kebudayaan di Kota Probolinggo memang kerap mengalami perubahan. Mulai dari digabung dengan olahraga, dipisah, hingga kembali digabung.

Kondisi ini dinilai menjadi catatan penting dalam pembahasan LKPJ. Penataan kelembagaan ke depan diharapkan lebih fokus pada urusan wajib agar pelaksanaan program dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran. (*)

Berita Terkait

Sorotan LKPJ 2025: Seragam Siswa hingga Rehab Sekolah Jadi Perhatian Pansus
Dari Keteladanan Ulama hingga Peran Pesantren, Ini Pesan Menag di Probolinggo
DPRD Probolinggo Kritik PUPR-PKP: Anggaran Rendah, Izin Lambat, Investasi Harus Tertib
Kunjungi Ponpes Nurul Jadid, Menteri Agama Dorong Pesantren Bangkitkan Semangat ‘Baitul Hikmah’
Musrenbang RKPD 2027 Digelar, DPRD Probolinggo Kawal Arah Pembangunan Daerah
Bahas LKPJ 2025, Serapan Anggaran Dispendukcapil dan Dinas Perpustakaan Disorot
Tinjau SRT 7 Kota Probolinggo, Komdigi Tekankan Internet Merata dan Aman bagi Siswa
Gemarikan di SDN Randutatah, Arumi Edukasi Gizi dan Cegah Stunting
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 16:15 WIB

Sorotan LKPJ 2025: Seragam Siswa hingga Rehab Sekolah Jadi Perhatian Pansus

Sabtu, 18 April 2026 - 15:35 WIB

Riyadlus Sholihin Singgung Ketidakseimbangan Dinas Pendidikan-Kebudayaan

Sabtu, 18 April 2026 - 15:16 WIB

Dari Keteladanan Ulama hingga Peran Pesantren, Ini Pesan Menag di Probolinggo

Jumat, 17 April 2026 - 17:44 WIB

DPRD Probolinggo Kritik PUPR-PKP: Anggaran Rendah, Izin Lambat, Investasi Harus Tertib

Jumat, 17 April 2026 - 17:39 WIB

Kunjungi Ponpes Nurul Jadid, Menteri Agama Dorong Pesantren Bangkitkan Semangat ‘Baitul Hikmah’

Berita Terbaru