PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Keluhan warga terkait sulitnya mendapatkan gas LPG 3 kilogram di Kota Probolinggo dalam beberapa waktu terakhir terus bermunculan. Kondisi tersebut disebut dipicu oleh berkurangnya pasokan gas subsidi di sejumlah pangkalan, sehingga masyarakat harus lebih sulit mencari tabung melon yang selama ini menjadi kebutuhan sehari-hari.
Samsul, salah satu petugas pengiriman LPG dari agen ke pangkalan dan warung pengecer, mengungkapkan bahwa distribusi gas subsidi memang mengalami penurunan dibanding biasanya. Menurutnya, pengurangan kuota terjadi langsung dari tingkat agen sehingga jumlah tabung yang diterima pangkalan menjadi jauh lebih sedikit.
“Memang ada pengurangan distribusi. Pangkalan yang biasanya menerima 100 tabung, sekarang hanya sekitar 30 tabung. Ada juga yang sebelumnya dapat 250 tabung, kini tinggal 150 tabung,” ujar Samsul, Senin (13/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan, kondisi tersebut bukan sepenuhnya karena kelangkaan total, melainkan akibat keterlambatan pengiriman yang dibarengi dengan pemangkasan kuota. Selain itu, distribusi juga kerap terganggu karena armada pengangkut dari Surabaya datang tidak sesuai jadwal.
Menurut Samsul, libur nasional juga ikut memengaruhi ketersediaan stok. Saat pusat pengisian berhenti beroperasi karena tanggal merah, kebutuhan masyarakat justru meningkat sehingga pasokan di tingkat bawah semakin terbatas.
Di tengah kondisi tersebut, harga LPG 3 kilogram di tingkat pengecer dikabarkan ikut mengalami kenaikan hingga Rp25 ribu per tabung. Namun Samsul menegaskan bahwa harga dari pihak pengiriman tetap normal dan tidak mengalami perubahan.
“Dari kami tetap Rp18.000. Jadi di pangkalan resmi seharusnya masih sekitar Rp20.000. Kalau sampai Rp25.000, itu kemungkinan ulah oknum yang bermain harga,” jelasnya.
Ia juga menyebut, pihak distributor tidak akan segan menghentikan pasokan kepada pangkalan yang terbukti menjual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) tanpa alasan yang dapat dibenarkan.
Sementara itu, kondisi ini mendapat perhatian serius dari DPRD Kota Probolinggo. Panitia Khusus (Pansus) DPRD menilai persoalan kelangkaan LPG subsidi tidak bisa dianggap sebagai persoalan distribusi biasa, karena muncul dugaan adanya penyimpangan dalam penyalurannya.
Anggota Pansus DPRD Kota Probolinggo, Tri Atmojo Adip Susilo, S.Pt., mengatakan pihaknya mencium indikasi praktik curang di lapangan, termasuk dugaan pemindahan isi tabung subsidi ke tabung non-subsidi demi keuntungan pribadi.
“Kami menduga ada penyalahgunaan distribusi. Jika benar ada pengoplosan dari tabung 3 kilogram ke tabung non-subsidi, tentu ini sangat merugikan masyarakat kecil yang berhak menerima subsidi,” tegas Tri.
Menanggapi hal tersebut, DPRD mendorong dinas terkait bersama aparat kepolisian untuk segera melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah pangkalan. Langkah itu dinilai penting untuk memastikan penyebab utama kelangkaan, sekaligus menindak tegas jika ditemukan pelanggaran.
DPRD juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan dan segera melaporkan apabila menemukan harga yang tidak wajar maupun aktivitas mencurigakan dalam proses distribusi. Dengan pengawasan bersama, penyaluran LPG subsidi diharapkan bisa kembali normal dan tepat sasaran bagi warga yang membutuhkan. (*)






