PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Rangkaian perayaan Yadnya Karo 1948 Caka di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, ditutup dengan prosesi sakral Nyadran. Tradisi ini menjadi puncak perayaan Hari Raya Karo yang hingga kini terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Suku Tengger.
Yadnya Karo merupakan salah satu perayaan besar umat Hindu Tengger yang memiliki makna sebagai ungkapan syukur atau selamatan kedua. Perayaan ini dilaksanakan setiap bulan kedua dalam penanggalan Tengger, yaitu bulan Karo, dan menjadi bagian penting dari warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Puncak perayaan ditandai dengan prosesi Nyadran, yakni ziarah bersama ke makam para leluhur. Di Desa Sapikerep, masyarakat mendatangi tiga lokasi yang dianggap sakral, yaitu Ndanyang, Punden, dan pemakaman umum desa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelum menuju lokasi tersebut, warga terlebih dahulu mengikuti upacara adat yang dipimpin oleh Romo Dukun Suku Tengger. Setelah prosesi selesai, seluruh peserta berjalan bersama menuju tiga titik sakral sebagai bagian dari rangkaian ritual Nyadran.
Penjabat Kepala Desa Sapikerep, Agus Cahyo Raharjo, ikut berjalan bersama masyarakat mengikuti prosesi tersebut. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran rangkaian Yadnya Karo.
“Atas nama Pemerintah Desa Sapikerep dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo, kami sangat menghormati budaya dan kearifan lokal masyarakat Tengger yang terus terjaga hingga saat ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada panitia, TNI, Polri, Romo Dukun, dan seluruh tokoh masyarakat sehingga rangkaian Yadnya Karo maupun Nyadran dapat berlangsung dengan aman dan lancar. Semoga generasi penerus terus menjaga dan melestarikan budaya yang telah diwariskan ini,” ujarnya.
Prosesi Nyadran tidak hanya diikuti masyarakat Tengger yang beragama Hindu, tetapi juga warga dari berbagai latar belakang kepercayaan. Kebersamaan tersebut menjadi salah satu wujud toleransi yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat Tengger.
Doa untuk para leluhur dipimpin langsung oleh Romo Dukun Desa Sapikerep, Romo Ngatik dan Romo Misnoyo. Keduanya memimpin seluruh rangkaian doa di makam para leluhur.
Romo Misnoyo menjelaskan bahwa Nyadran merupakan inti dari perayaan Hari Raya Karo karena menjadi momen untuk memberikan penghormatan kepada leluhur.
“Nyadran adalah puncak dari perayaan Karo. Intinya, seluruh masyarakat berdoa bersama di makam para leluhur sebagai bentuk penghormatan, karena tanpa para leluhur, kita tidak akan ada di dunia ini,” jelasnya.
Usai prosesi Nyadran, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Ujung-Ujungan di Kantor Desa Sapikerep. Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Romo Dukun melalui prosesi adat Mulihe Ping Pitu. (*)






