PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Di balik kemeriahan dan sakralitas perayaan Yadnya Kasada 1948 Saka atau tahun 2026 di Gunung Bromo, terdapat satu prosesi yang menentukan keberlangsungan tradisi masyarakat Tengger: pengukuhan Dukun Pandita. Tahun ini, tiga Dukun Pandita baru akan dikukuhkan di Pura Luhur Poten, sebuah momentum yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi bagian dari regenerasi penjaga adat dan spiritual masyarakat Tengger.
Prosesi yang berlangsung pada Senin dini hari itu menjadi sorotan karena jumlah Dukun Pandita yang memenuhi syarat tidak selalu banyak. Untuk mencapai tahap pengukuhan, para calon harus melewati serangkaian ujian adat, penguasaan mantra, tata upacara, hingga penilaian oleh para sesepuh Tengger. Tidak semua calon mampu lolos dalam tahapan tersebut.
Tiga Dukun Pandita yang dikukuhkan berasal dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, dan Desa Pandansari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, serta Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Mereka akan memikul tanggung jawab besar sebagai pemimpin ritual dan penjaga nilai-nilai adat yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto, mengungkapkan bahwa pengukuhan Dukun Pandita merupakan salah satu tahapan paling penting dalam rangkaian Yadnya Kasada.
“Rangkaian Yadnya Kasada diawali dengan berbagai tahapan ritual, termasuk ujian calon Dukun Pandita kawasan Tengger. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, mereka kemudian dikukuhkan untuk menjalankan tugas pelayanan keagamaan kepada umat,” ujarnya, Minggu (31/5/2026).
Namun di balik prosesi sakral tersebut, tersimpan tantangan yang mulai menjadi perhatian sejumlah tokoh adat. Regenerasi pemimpin spiritual Tengger tidak dapat dilakukan secara instan. Seorang Dukun Pandita dituntut memahami berbagai ritual, filosofi adat, hingga tanggung jawab sosial di tengah masyarakat. Kemampuan tersebut membutuhkan proses pembelajaran yang panjang dan pengabdian yang tidak singkat.
Pengukuhan tahun ini sekaligus menjadi penanda bahwa masyarakat Tengger terus berupaya menjaga keberlangsungan tradisi di tengah perubahan sosial dan perkembangan pariwisata kawasan Bromo yang semakin pesat. Kehadiran Dukun Pandita menjadi elemen penting agar ritual adat tidak bergeser hanya menjadi atraksi budaya, melainkan tetap mempertahankan nilai spiritual yang menjadi ruh utama Yadnya Kasada.
Menurut Bambang, Dukun Pandita memiliki peran yang jauh lebih luas dibanding sekadar memimpin upacara keagamaan. Mereka menjadi penghubung antara nilai-nilai leluhur dengan kehidupan masyarakat modern, sekaligus menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Tengger.
Setelah prosesi pengukuhan, rangkaian Yadnya Kasada berlanjut dengan pelayanan umat dan ritual labuh sesaji. Ribuan warga Tengger kemudian akan berjalan menuju kawah Gunung Bromo untuk melarung hasil bumi, ternak, dan berbagai persembahan sebagai ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widhi.
Tradisi tersebut tidak hanya menyimpan nilai religius, tetapi juga pesan kuat tentang hubungan manusia dengan alam. Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks, filosofi Kasada mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan dan menghormati alam sebagai sumber kehidupan.
“Harapannya, melalui Yadnya Kasada dan pengukuhan Dukun Pandita ini, keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam dapat terus terjaga. Dengan demikian, kehidupan yang damai, sejahtera, dan selaras akan senantiasa terwujud di tengah masyarakat,” pungkas Bambang.
Pengukuhan tiga Dukun Pandita di Bromo tahun ini pada akhirnya bukan sekadar agenda tahunan dalam kalender adat Tengger. Prosesi tersebut menjadi penegasan bahwa di tengah modernisasi dan derasnya arus wisata, masyarakat Tengger masih berusaha mempertahankan satu hal yang paling mendasar: keberlanjutan tradisi dan nilai spiritual yang menjadi identitas mereka selama ratusan tahun. (*)






