PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Masyarakat Suku Tengger di Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, terus melestarikan rangkaian adat Hari Raya Karo 1948 Saka. Salah satu tradisi yang digelar pada Senin (3/8/2026) adalah ritual Nyadran sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.
Ritual Nyadran merupakan bagian dari rangkaian Hari Raya Karo yang diawali dengan prosesi Takaning Pitu, Tumpeng Gede, Sesanti, penutupan sesanding, dan Ngeroan. Setelah Nyadran, rangkaian adat akan dilanjutkan dengan Ujung-Ujungan, hiburan tayub, hingga ditutup dengan ritual Mulie Ping Pitu. Seluruh prosesi tersebut menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam perayaan Hari Raya Karo.
Dalam pelaksanaan Nyadran, seluruh masyarakat adat secara bersama-sama mendatangi makam leluhur di wilayah masing-masing. Khusus di Desa Ngadirejo, ritual dilaksanakan di dua makam adat, yakni Makam Jenggiri dan Makam Nglegong.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Desa Ngadirejo, Anang Budiono, menjelaskan bahwa Nyadran merupakan tradisi untuk mengenang dan menghormati jasa para leluhur.
“Nyadran adalah bentuk penghormatan kepada para leluhur. Kita ada di dunia ini karena mereka yang lebih dahulu hadir. Prosesi dilakukan dengan berjalan bersama menuju makam adat, diiringi gamelan ketipung Tengger. Masyarakat juga membawa berbagai sesajen dan bunga yang dipersembahkan kepada leluhur, kemudian doa dipimpin oleh dukun adat Suku Tengger,” ujarnya.
Prosesi tersebut diiringi alunan gamelan ketipung Tengger yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Tengger dan terus dijaga secara turun-temurun.
Salah seorang warga, Novi, mengatakan tradisi Nyadran selalu dilaksanakan setiap perayaan Hari Raya Karo. Masyarakat datang bersama keluarga dengan mengenakan pakaian adat khas Tengger sambil membawa persembahan untuk para leluhur.
“Setiap tahun kami melaksanakan Nyadran bersama keluarga dengan memakai pakaian adat Tengger dan diiringi ketipung. Selain untuk menghormati leluhur, tradisi ini juga menjadi momen mempererat persaudaraan karena masyarakat bisa berkumpul setiap tahun dalam ritual Nyadran di makam adat,” pungkasnya. (*)






