PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Menjelang perayaan Hari Raya Karo, suasana bahagia belum sepenuhnya dirasakan oleh sebagian petani di lereng Gunung Bromo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Mereka mengeluhkan turunnya harga hasil panen, khususnya tomat, sementara biaya perawatan tanaman, obat-obatan, dan pupuk tetap tinggi.
Hari Raya Karo merupakan salah satu hari besar yang diperingati setiap tahun oleh masyarakat Suku Tengger. Namun, kondisi tahun ini berbeda karena harga hasil pertanian justru mengalami penurunan saat memasuki masa panen.
Salah seorang petani tomat asal Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Sukotjo, mengatakan harga tomat saat panen raya jauh dari harapan. Menurutnya, hasil penjualan tidak sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan selama proses budidaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tahun ini kami para petani tomat di lereng Bromo hanya bisa gigit jari. Saat panen raya, harga tomat justru murah, padahal biaya perawatan tanaman cukup tinggi. Apalagi sekarang menjelang Hari Raya Karo. Seandainya harga tomat tetap stabil, kami masih bisa mendapatkan keuntungan,” ujarnya.
Selain biaya perawatan tanaman, petani juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar pekerja yang memanen tomat. Dalam setiap kali panen, dibutuhkan sekitar lima orang pekerja.
Sementara itu, Hartini berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada para petani. Menurutnya, dengan kondisi harga hasil panen saat ini, pendapatan yang diperoleh belum mampu memberikan keuntungan.
“Kami berharap ke depan pemerintah bisa lebih memperhatikan petani seperti kami. Dengan harga hasil panen sekarang, bisa kembali modal saja sudah cukup,” katanya. (*)






