PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Menjalani masa pidana bukan berarti berhenti memperbaiki diri. Pesan itu yang coba ditekankan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Probolinggo melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Aula Lapas Probolinggo, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda keagamaan rutin. Momentum Maulid Nabi dimanfaatkan sebagai bagian dari pembinaan kepribadian untuk mendorong warga binaan memperkuat nilai agama sekaligus membangun karakter sebelum nantinya kembali ke tengah masyarakat.

Peringatan Maulid Nabi diisi ceramah agama yang disampaikan Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo, Arifin Budianto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Lapas Probolinggo Bayu Muhammad menegaskan, pembinaan terhadap warga binaan tidak berhenti pada pemenuhan hak selama menjalani hukuman. Ada tujuan yang lebih besar, yakni menyiapkan mereka agar mampu kembali ke masyarakat dengan membawa perubahan.
“Semangat yang ingin kita bangun adalah semangat kekeluargaan, semangat kebersamaan, dan semangat solusi. Pembinaan bukan hanya tentang bagaimana seseorang menjalani masa pidananya, tetapi bagaimana kita bersama-sama mempersiapkan mereka untuk kembali ke masyarakat dengan pribadi yang lebih baik,” ujar Bayu.
Ia meminta warga binaan tidak menjadikan masa pidana sekadar waktu untuk menunggu kebebasan. Sebaliknya, masa tersebut harus dimanfaatkan untuk melakukan introspeksi, memperbaiki perilaku dan memperkuat kehidupan keagamaan.
Menurut Bayu, keteladanan Nabi Muhammad SAW dapat menjadi pijakan bagi warga binaan dalam menjalani proses perubahan. Nilai kejujuran, kesabaran, kepedulian dan akhlak yang diajarkan Rasulullah diharapkan tidak berhenti pada ceramah, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Momentum Maulid Nabi ini harus menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri,” tegasnya.
Lapas Probolinggo pun berkomitmen menjadikan pembinaan keagamaan sebagai salah satu instrumen penting dalam proses pemasyarakatan.
Harapannya, ketika masa pidana berakhir, warga binaan tidak hanya keluar dari balik jeruji, tetapi juga membawa bekal perubahan karakter, akhlak dan kesiapan untuk kembali berbaur serta berkontribusi secara positif di tengah masyarakat.






