PROBOLINGGO, suarabayuangg.com – Kasus penemuan mayat tanpa busana di dalam sumur tua di kawasan kebun sengon, Desa Alassumur Kulon, Kecamatan Kraksaan, mulai mengungkap fakta baru. Di balik penemuan jenazah yang telah membusuk itu, polisi memperoleh informasi awal bahwa korban diduga mengenal pelaku melalui aplikasi kencan daring OMI.
Perkembangan tersebut menjadi petunjuk penting dalam penyelidikan kasus yang sempat menggegerkan warga Kabupaten Probolinggo. Sebelumnya, masyarakat dibuat resah setelah aroma menyengat tercium dari area kebun sengon. Setelah ditelusuri, bau tersebut berasal dari sebuah sumur sedalam sekitar enam meter.
Laporan warga langsung ditindaklanjuti oleh personel Polsek Kraksaan bersama Unit Inafis Polres Probolinggo. Saat proses evakuasi dilakukan, petugas menemukan sesosok jenazah tanpa busana dalam kondisi pembusukan lanjut. Kerusakan tubuh yang cukup parah membuat identitas korban belum dapat dipastikan saat itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Awalnya warga mencium bau busuk yang sangat menyengat. Setelah dicari sumbernya, ternyata berasal dari sumur di tengah kebun. Setelah diangkat polisi, kondisi jenazah sudah membusuk dan tanpa pakaian,” kata Ahmad Mudesser, warga Kraksaan.
Di tengah proses identifikasi, muncul informasi dari jajaran kepolisian yang mengarah pada identitas korban. Kapolsek Bantaran AKP Agus Eko Widodo mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari Polsek Kraksaan, korban diduga merupakan Siti Munawaroh, warga Kecamatan Bantaran.
Menurut informasi awal tersebut, korban diduga berkenalan dengan terduga pelaku melalui aplikasi kencan daring OMI. Polisi juga menerima pengakuan awal yang mengarah kepada dua orang berinisial Rofik dan Humaidi, warga Desa Alaskandang. Namun, informasi itu masih terus didalami melalui proses penyidikan.
Sementara itu, Kapolsek Kraksaan Kompol Masykur menegaskan pihaknya belum dapat menyampaikan kesimpulan resmi mengenai identitas korban maupun penyebab kematiannya. Kondisi jenazah yang telah mengalami pembusukan berat membuat proses identifikasi harus dilakukan melalui autopsi dan pemeriksaan forensik.
“Kondisinya sudah hancur dan membusuk. Jadi belum bisa kami pastikan identitas, jenis kelamin ataupun penyebab kematiannya. Kami masih menunggu hasil autopsi dari tim medis,” ujar Kompol Masykur, Sabtu (4/7/2026).
Jenazah kini berada di Instalasi Pemulasaran Jenazah RSUD Waluyo Jati. Selain mengungkap penyebab kematian, hasil autopsi juga akan menjadi dasar bagi penyidik untuk memastikan identitas korban serta menguji seluruh informasi yang telah diperoleh, termasuk dugaan hubungan korban dengan terduga pelaku yang berawal dari aplikasi kencan daring. Hingga kini, kepolisian masih terus mengembangkan penyidikan dan belum menyampaikan keterangan resmi mengenai penetapan tersangka maupun kronologi lengkap peristiwa tersebut. (*)






