google.com, pub-8538472729161827, DIRECT, f08c47fec0942fa0

 

Kenaikan Pertamax Picu Keluhan Warga Kota Probolinggo, Antrean Pertalite Panjang, Pertamax Kini Terlalu Mahal

- Jurnalis

Kamis, 11 Juni 2026 - 19:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter mulai Rabu (10/6/2026) memicu keluhan warga Kota Probolinggo. Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, lonjakan harga bahan bakar dinilai semakin membebani masyarakat, terutama pekerja dengan penghasilan tetap yang harus menghadapi biaya hidup yang kian mahal.

Harga Pertamax yang sebelumnya Rp12.300 per liter kini melonjak Rp3.950 menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan tersebut langsung dirasakan pengguna kendaraan yang selama ini memilih Pertamax karena dinilai lebih praktis dibanding harus mengantre Pertalite.

Salah satu keluhan datang dari Wardah, warga Kelurahan Kedopok, Kecamatan Kedopok. Karyawan swasta itu mengaku terkejut saat mengetahui harga Pertamax naik hampir Rp4.000 per liter dalam sekali penyesuaian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Bagaimana tidak keberatan, biasanya saya isi penuh tangki motor hanya sekitar Rp35 ribuan. Sekarang sampai Rp58 ribu. Selisihnya jauh sekali, hampir dua kali lipat,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).

Menurut Wardah, kenaikan tersebut memperbesar pengeluaran hariannya yang sebelumnya sudah tertekan oleh naiknya harga berbagai kebutuhan rumah tangga.

Ia mengaku sebenarnya bisa beralih ke Pertalite yang masih dijual Rp10.000 per liter. Namun antrean panjang di sejumlah SPBU membuat pilihan itu tidak selalu memungkinkan.

“Kalau Pertalite memang lebih murah, tapi antreannya sering panjang. Saya berangkat kerja pagi, jadi waktunya terbatas. Akhirnya tetap memilih Pertamax walaupun sekarang makin mahal,” katanya.

Bagi Wardah, persoalan terbesar bukan hanya kenaikan harga BBM. Ia menilai hampir seluruh kebutuhan hidup saat ini mengalami kenaikan, sementara pendapatan pekerja tidak ikut bertambah.

“Apa-apa sekarang mahal. Harga kebutuhan pokok naik, BBM naik, biaya hidup naik. Tapi gaji ya segitu-segitu saja. Yang terasa berat itu masyarakat kecil dan pekerja seperti kami,” keluhnya.

Kenaikan harga Pertamax diumumkan PT Pertamina Patra Niaga pada Selasa malam dan mulai berlaku secara nasional pada 10 Juni 2026. Selain Pertamax RON 92 yang naik menjadi Rp16.250 per liter, Pertamax Green RON 95 juga mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Pertamina menjelaskan penyesuaian harga dilakukan sebagai dampak meningkatnya harga minyak mentah dunia atau Indonesian Crude Price (ICP) serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Meski demikian, pemerintah masih mempertahankan harga BBM subsidi. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter dan Solar subsidi Rp6.800 per liter.

Di tingkat SPBU, kenaikan harga belum memicu lonjakan pembelian maupun kepanikan masyarakat. Pengawas Sif SPBU Mastrip, Anton Efendi, mengatakan aktivitas pengisian BBM masih berlangsung normal.

“Untuk saat ini masih normal, tidak ada peningkatan pembelian yang signifikan maupun antrean yang tidak biasa,” ujarnya.

Namun bagi banyak warga, dampak kenaikan Pertamax tidak hanya diukur dari kondisi di SPBU. Harga BBM yang melonjak hampir Rp4.000 per liter dianggap menjadi penanda semakin beratnya tekanan ekonomi rumah tangga.

Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen Nasional (LPKN) Probolinggo, Louis Hariona, mengimbau masyarakat agar tidak melakukan penimbunan BBM menyusul kenaikan harga tersebut. Pihaknya juga akan mengawasi distribusi dan pelayanan SPBU guna mencegah praktik penyimpangan di lapangan.

“Kami mengimbau masyarakat tetap membeli sesuai kebutuhan dan tidak melakukan penimbunan. Pengawasan terhadap distribusi BBM juga akan terus dilakukan,” katanya.

Dengan kenaikan harga Pertamax yang cukup tajam, biaya transportasi harian masyarakat dipastikan ikut membengkak. Sementara di sisi lain, pendapatan sebagian besar pekerja belum mengalami penyesuaian. Kondisi itu membuat banyak warga merasa ruang keuangan mereka semakin sempit, di tengah harga kebutuhan pokok yang terus bergerak naik. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Bupati Probolingo Minta Audit Menyeluruh Pelayanan Rumah Sakit
Sampaikan Pesan Sosial, Bupati Haris Apresiasi Karya Peserta Kompetisi Mural
DPRD Kota Probolinggo Gelar Rapat Paripurna Pemandangan Umum Fraksi Terhadap 3 Raperda Eksekutif
Ambisi Besar Tarung Derajat Kota Probolinggo: Dari Pembinaan Pelatih Menuju Tuan Rumah Kejurprov
Pawai Budaya Hari Jadi Ke 667 Kota Probolinggo Perkuat Identitas Dan Kebanggaan Budaya Daerah
Perkuat Sinergitas Dan Pelayanan Publik, Pemkot Probolinggo Hibahkan Tanah Ke Kantor Pertanahan Kota Probolinggo
Anggota DPR RI Mukhamad Misbakhun Bantah Terlibat Praktik Dugaan Penjualan Pita Cukai Rokok
Nama Anak dan Sanggar Terdampak Video Viral, Keluarga Tempuh Jalur Hukum
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 18:00 WIB

Bupati Probolingo Minta Audit Menyeluruh Pelayanan Rumah Sakit

Selasa, 15 September 2026 - 07:23 WIB

Sampaikan Pesan Sosial, Bupati Haris Apresiasi Karya Peserta Kompetisi Mural

Senin, 14 September 2026 - 18:21 WIB

DPRD Kota Probolinggo Gelar Rapat Paripurna Pemandangan Umum Fraksi Terhadap 3 Raperda Eksekutif

Senin, 14 September 2026 - 12:08 WIB

Pawai Budaya Hari Jadi Ke 667 Kota Probolinggo Perkuat Identitas Dan Kebanggaan Budaya Daerah

Minggu, 13 September 2026 - 10:59 WIB

Perkuat Sinergitas Dan Pelayanan Publik, Pemkot Probolinggo Hibahkan Tanah Ke Kantor Pertanahan Kota Probolinggo

Berita Terbaru

Bupati Haris saat melakukan kunjungan ke RSUD Waluyo Jati Kabupaten Probolinggo menindaklanjuti viralnya kasus pelayanan rumah sakit.

Probolinggo

Bupati Probolingo Minta Audit Menyeluruh Pelayanan Rumah Sakit

Rabu, 16 Sep 2026 - 18:00 WIB