google.com, pub-8538472729161827, DIRECT, f08c47fec0942fa0

 

LSM LIRA Kota Probolinggo Dengar Jeritan Disabilitas: Akses Masih Jauh dari Layak

- Jurnalis

Kamis, 26 Maret 2026 - 19:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Momentum Lebaran dimanfaatkan komunitas disabilitas Jawa Timur untuk bersuara lebih keras. Bertempat di kantor LSM LIRA Kota Probolinggo, Kamis (26/3/2026), puluhan perwakilan disabilitas lintas daerah—mulai Surabaya, Pasuruan hingga wilayah Tapal Kuda—berkumpul, bukan sekadar silaturahmi, tetapi membawa misi advokasi yang tegas.

Wali Kota LSM LIRA Kota Probolinggo, Louis Hariona, menerima langsung rombongan tersebut. Ia menegaskan, pertemuan ini menjadi alarm penting bagi semua pihak agar tidak lagi menutup mata terhadap persoalan disabilitas.

Di balik suasana halal bihalal, terselip persoalan serius. Ketua Paguyuban Disabilitas Jawa Timur, Abdul Wajid, mengungkapkan, kunjungan ini juga bertujuan memberikan penguatan psikologis kepada Haikal, korban tragedi ambruknya bangunan pesantren di Sidoarjo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akibat insiden tersebut, Haikal harus kehilangan salah satu kakinya. Kini, aktivitasnya sepenuhnya bergantung pada kruk, sementara pemasangan kaki palsu belum bisa dilakukan karena kondisi luka yang belum pulih.

“Kami datang bukan hanya untuk menguatkan mental korban, tapi juga memastikan negara hadir. Apa saja yang belum diberikan, itu yang kami dorong,” tegasnya.

Namun persoalan tidak berhenti di sana. Forum ini justru membuka fakta yang lebih luas: penyandang disabilitas masih menghadapi tembok besar dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sisi infrastruktur, kondisi jalan di Kota Probolinggo dinilai belum ramah disabilitas. Banyak ruas jalan yang rusak, tambal sulam, dan tidak rata, sehingga membahayakan pengguna alat bantu seperti kursi roda maupun kendaraan roda tiga.

“Kalau kami berkendara, itu seperti bertaruh. Jalan tidak rata, berisiko jatuh. Ini bukan soal nyaman lagi, tapi soal keselamatan,” ungkap Muhammad Saihu, perwakilan disabilitas Kota Probolinggo.

Di sektor ketenagakerjaan, situasinya tak kalah memprihatinkan. Regulasi yang mewajibkan kuota 2 persen tenaga kerja disabilitas di instansi pemerintah dan 1 persen di sektor swasta, dinilai belum dijalankan secara serius.

Fakta di lapangan menunjukkan, sebagian besar penyandang disabilitas masih terpinggirkan dari sektor formal dan dipaksa bertahan di sektor informal.

“Bukan tidak mampu, tapi tidak diberi kesempatan. Aturan ada, tapi implementasinya lemah,” tegas Saihu.

Padahal, data menunjukkan jumlah penyandang disabilitas bukan angka kecil. Secara nasional diperkirakan mencapai 27 juta jiwa, dengan sekitar 1,5 juta berada di Jawa Timur. Angka besar ini berbanding terbalik dengan akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan bantuan sosial yang masih timpang.

Komunitas disabilitas menilai, selama ini bantuan pemerintah belum menyentuh seluruh lapisan. Banyak yang belum terdata, sementara yang sudah mandiri pun tetap membutuhkan dukungan, terutama dalam hal pelatihan, akses permodalan, hingga digitalisasi usaha.

“Kalau hanya bantuan sesaat, tidak cukup. Kami butuh akses berkelanjutan agar bisa benar-benar mandiri,” tambah Abdul Wajid.

Pertemuan ini pun menjadi penegasan bahwa isu disabilitas bukan sekadar isu sosial, melainkan soal keadilan. Mereka mendesak pemerintah daerah hingga pusat untuk tidak lagi setengah hati dalam menjalankan regulasi yang sudah ada.

Silaturahmi Lebaran ini akhirnya berubah menjadi panggung kritik. Pesannya jelas: penyandang disabilitas tidak meminta belas kasihan, tetapi menuntut hak yang selama ini belum sepenuhnya diberikan. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Bupati Probolingo Minta Audit Menyeluruh Pelayanan Rumah Sakit
Sampaikan Pesan Sosial, Bupati Haris Apresiasi Karya Peserta Kompetisi Mural
DPRD Kota Probolinggo Gelar Rapat Paripurna Pemandangan Umum Fraksi Terhadap 3 Raperda Eksekutif
Ambisi Besar Tarung Derajat Kota Probolinggo: Dari Pembinaan Pelatih Menuju Tuan Rumah Kejurprov
Pawai Budaya Hari Jadi Ke 667 Kota Probolinggo Perkuat Identitas Dan Kebanggaan Budaya Daerah
Perkuat Sinergitas Dan Pelayanan Publik, Pemkot Probolinggo Hibahkan Tanah Ke Kantor Pertanahan Kota Probolinggo
Anggota DPR RI Mukhamad Misbakhun Bantah Terlibat Praktik Dugaan Penjualan Pita Cukai Rokok
Nama Anak dan Sanggar Terdampak Video Viral, Keluarga Tempuh Jalur Hukum
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 18:00 WIB

Bupati Probolingo Minta Audit Menyeluruh Pelayanan Rumah Sakit

Selasa, 15 September 2026 - 07:23 WIB

Sampaikan Pesan Sosial, Bupati Haris Apresiasi Karya Peserta Kompetisi Mural

Senin, 14 September 2026 - 18:21 WIB

DPRD Kota Probolinggo Gelar Rapat Paripurna Pemandangan Umum Fraksi Terhadap 3 Raperda Eksekutif

Senin, 14 September 2026 - 12:08 WIB

Pawai Budaya Hari Jadi Ke 667 Kota Probolinggo Perkuat Identitas Dan Kebanggaan Budaya Daerah

Minggu, 13 September 2026 - 10:59 WIB

Perkuat Sinergitas Dan Pelayanan Publik, Pemkot Probolinggo Hibahkan Tanah Ke Kantor Pertanahan Kota Probolinggo

Berita Terbaru

Bupati Haris saat melakukan kunjungan ke RSUD Waluyo Jati Kabupaten Probolinggo menindaklanjuti viralnya kasus pelayanan rumah sakit.

Probolinggo

Bupati Probolingo Minta Audit Menyeluruh Pelayanan Rumah Sakit

Rabu, 16 Sep 2026 - 18:00 WIB