google.com, pub-8538472729161827, DIRECT, f08c47fec0942fa0

 

Beban Sunyi Remaja dan Jalan Gelap Bernama Bunuh Diri

- Jurnalis

Minggu, 11 Januari 2026 - 11:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Maraknya kasus bunuh diri di kalangan pelajar bukanlah persoalan mental yang rapuh, melainkan tanda keras adanya tumpukan beban psikologis yang dibiarkan tanpa ruang aman untuk didengar.

Dosen Psikologi Institut Ahmad Dahlan Kota Probolinggo, Aries Dirgayunita, menegaskan bahwa hampir seluruh kasus bunuh diri remaja tidak pernah dipicu oleh satu sebab tunggal. Tekanan akademik, rasa kesepian, dan lingkungan yang abai terhadap kesehatan mental menjadi kombinasi berbahaya yang kerap luput dari perhatian.

“Remaja yang bunuh diri bukan lemah. Mereka kelelahan menanggung beban yang tidak terlihat,” tegas Aries, pada minggu (11/1/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ironisnya, banyak korban justru tampil sebagai pribadi yang tenang, penurut, bahkan dianggap tidak bermasalah. Sikap diam ini, menurut Aries, sering disalahartikan sebagai kondisi baik-baik saja, padahal justru merupakan sinyal bahaya paling serius. Fenomena tersebut dikenal sebagai masking—menyembunyikan luka batin di balik kepatuhan dan senyum.

Bagi remaja, kebutuhan untuk diterima oleh lingkungan sosial setara dengan kebutuhan dasar. Ketika penolakan, pengabaian, atau perasaan tidak dianggap terjadi terus-menerus, rasa putus asa tumbuh secara perlahan namun mematikan.

Masalah semakin pelik ketika remaja takut bercerita. Stigma, penghakiman, dan anggapan bahwa keluhan mental hanyalah “drama” membuat mereka memilih diam. Dalam kondisi terdesak, bunuh diri dipersepsikan sebagai satu-satunya jalan untuk menghentikan rasa sakit.

“Di sinilah peran orang dewasa sering gagal. Kita terlalu cepat menilai, terlalu lambat mendengar,” kata Aries.

Secara psikologis, Aries memetakan empat alasan utama yang kerap mendorong remaja menuju tindakan bunuh diri.

Pertama, logika yang belum matang. Emosi remaja ibarat pedal gas yang diinjak penuh, sementara rem logika belum berfungsi optimal. Tekanan emosional membuat mereka bertindak impulsif tanpa melihat kemungkinan solusi lain.

Kedua, pikiran yang menyempit. Saat stres berat, cara berpikir remaja mengerucut seperti lubang jarum. Masalah terasa seperti kiamat, masa depan dianggap tertutup. “Mereka bukan ingin mati, mereka ingin rasa sakitnya berhenti sekarang juga,” ujarnya.

Ketiga, luka sosial yang brutal. Penolakan teman, kesepian, dan perasaan menjadi beban keluarga menimbulkan rasa sakit sosial yang sama nyatanya dengan luka fisik. Dari sini, muncul dorongan untuk “menghilang”.

Keempat, amarah yang berbalik ke diri sendiri. Ketika tidak tahu cara meluapkan marah dan kecewa, remaja menyalahkan diri secara ekstrem. Bunuh diri dipahami sebagai hukuman bagi diri mereka sendiri.

Dari perspektif psikologi agama, Aries menilai pikiran remaja dapat jatuh ke titik paling gelap ketika iman tidak lagi memberi rasa aman.

Krisis harapan membuat mereka merasa sendirian tanpa sandaran spiritual. Rasa bersalah berlebihan atas dosa atau kegagalan memenuhi standar agama memperkuat keinginan untuk “menghilang”. Kondisi ini diperparah oleh stigma keliru bahwa depresi adalah tanda kurang iman, yang justru menutup akses bantuan psikologis dan spiritual secara bersamaan.

Aries menutup dengan peringatan keras bagi lingkungan terdekat remaja. Orang tua, guru, dan masyarakat diminta berhenti menghakimi dan mulai hadir sebagai pendengar yang aman.

“Diam bukan berarti baik-baik saja. Dan mencari bantuan bukan kelemahan, melainkan keberanian untuk bertahan hidup,” pungkasnya.

 

Penulis: Rapel

Editor: Us

Berita Terkait

Bupati Probolingo Minta Audit Menyeluruh Pelayanan Rumah Sakit
Sampaikan Pesan Sosial, Bupati Haris Apresiasi Karya Peserta Kompetisi Mural
DPRD Kota Probolinggo Gelar Rapat Paripurna Pemandangan Umum Fraksi Terhadap 3 Raperda Eksekutif
Ambisi Besar Tarung Derajat Kota Probolinggo: Dari Pembinaan Pelatih Menuju Tuan Rumah Kejurprov
Pawai Budaya Hari Jadi Ke 667 Kota Probolinggo Perkuat Identitas Dan Kebanggaan Budaya Daerah
Perkuat Sinergitas Dan Pelayanan Publik, Pemkot Probolinggo Hibahkan Tanah Ke Kantor Pertanahan Kota Probolinggo
Anggota DPR RI Mukhamad Misbakhun Bantah Terlibat Praktik Dugaan Penjualan Pita Cukai Rokok
Nama Anak dan Sanggar Terdampak Video Viral, Keluarga Tempuh Jalur Hukum
Berita ini 41 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 18:00 WIB

Bupati Probolingo Minta Audit Menyeluruh Pelayanan Rumah Sakit

Selasa, 15 September 2026 - 07:23 WIB

Sampaikan Pesan Sosial, Bupati Haris Apresiasi Karya Peserta Kompetisi Mural

Senin, 14 September 2026 - 18:21 WIB

DPRD Kota Probolinggo Gelar Rapat Paripurna Pemandangan Umum Fraksi Terhadap 3 Raperda Eksekutif

Senin, 14 September 2026 - 12:08 WIB

Pawai Budaya Hari Jadi Ke 667 Kota Probolinggo Perkuat Identitas Dan Kebanggaan Budaya Daerah

Minggu, 13 September 2026 - 10:59 WIB

Perkuat Sinergitas Dan Pelayanan Publik, Pemkot Probolinggo Hibahkan Tanah Ke Kantor Pertanahan Kota Probolinggo

Berita Terbaru

Bupati Haris saat melakukan kunjungan ke RSUD Waluyo Jati Kabupaten Probolinggo menindaklanjuti viralnya kasus pelayanan rumah sakit.

Probolinggo

Bupati Probolingo Minta Audit Menyeluruh Pelayanan Rumah Sakit

Rabu, 16 Sep 2026 - 18:00 WIB