PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Renovasi sentra kuliner GOR A. Yani di Kota Probolinggo justru memicu keluhan pedagang. Selain kehilangan pelanggan, sejumlah PKL juga menyinggung janji kampanye wali kota yang sebelumnya disebut akan memberi perhatian lebih kepada pelaku UMKM.
Keluhan itu disampaikan para pedagang saat ditemui pada Jumat (6/3/2026) siang. Mereka mengaku kondisi usaha kini jauh menurun dibanding sebelum kawasan kuliner tersebut direnovasi.
Misyana, salah satu pemilik warung di lokasi tersebut, mengatakan sebelum renovasi, kawasan kuliner GOR A. Yani selalu ramai, terutama saat bulan Ramadan. Dalam sehari ia bisa meraup keuntungan hingga ratusan ribu rupiah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau Ramadan dulu ramai sekali. Sehari bisa dapat untung ratusan ribu,” ujarnya.
Namun setelah renovasi dilakukan, kondisi berbalik drastis. Ia mengaku kini mendapatkan pembeli saja sudah menjadi hal yang patut disyukuri.
“Sekarang ada yang beli saja sudah bersyukur,” keluhnya.
Menurutnya, sepinya pelanggan bukan tanpa sebab. Kondisi sentra kuliner saat ini dinilai tidak nyaman, baik bagi pedagang maupun pengunjung. Para pedagang harus berjualan di area terbuka tanpa perlindungan memadai.
“Kalau hujan ya kehujanan, kalau panas ya kepanasan seperti sekarang,” katanya.
Tak hanya itu, fasilitas tempat duduk pelanggan juga dinilai jauh lebih minim dibanding sebelum direnovasi, sehingga pengunjung enggan berlama-lama di lokasi.
Kekecewaan para pedagang bahkan menyeret janji kampanye Wali Kota Probolinggo terpilih, Aminuddin. Mereka mengaku dulu sempat dijanjikan perhatian terhadap pelaku UMKM.
“Dulu waktu kampanye katanya PKL dan UMKM akan diayomi. Bahkan dijanjikan bantuan Rp1 juta untuk setiap pelaku usaha. Tapi sampai sekarang tidak ada,” ujar Misyana.
Sebagai bentuk sindiran, ia bahkan melontarkan pernyataan menantang jika janji tersebut benar-benar ditepati.
“Kalau memang Pak Aminudin menepati janji kampanyenya, saya siap bagi sepuluh porsi rawon gratis di depan GOR,” ucapnya.
Pantauan di lokasi, suasana sentra kuliner GOR A. Yani terlihat lengang. Area tempat duduk pelanggan minim dan sebagian terbuka tanpa atap, membuat pengunjung harus menahan panas matahari atau kehujanan saat cuaca buruk.
Kondisi ini jauh berbeda dengan tahun lalu sebelum renovasi dilakukan. Saat itu kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu titik kuliner yang selalu ramai, terutama menjelang waktu berbuka puasa.
Kini, para pedagang hanya bisa pasrah menghadapi sepinya pembeli, sambil berharap ada perhatian dari pemerintah agar kawasan kuliner tersebut kembali hidup dan tidak semakin mematikan usaha kecil di sekitarnya. (Rfl)






