PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Suasana di depan Stadion Bayuangga pada Selasa (3/3/2026) malam mendadak memanas. Sekitar pukul 22.00 WIB, suporter Persipro yang tergabung dalam Curva Sud menggelar aksi protes. Mereka kecewa karena stadion digunakan untuk kegiatan selain sepak bola.
Dalam aksi tersebut, mereka membentangkan banner bernada sindiran bertuliskan, “Disewakan!! Bisa digunakan untuk segala jenis event selain sepak bola.” Tulisan itu menggambarkan kekecewaan suporter yang merasa stadion lebih sering dipakai untuk acara hiburan daripada pertandingan bola.
Tak hanya berorasi, para suporter juga bermain bola di depan gerbang stadion. Aksi itu sebagai simbol bahwa jika lapangan tidak lagi diprioritaskan untuk sepak bola, maka mereka siap bermain di jalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perwakilan Curva Sud, Ali, menyatakan penolakan terhadap penggunaan stadion untuk acara non-sepak bola. Ia khawatir kegiatan besar dengan panggung dan alat berat bisa merusak rumput lapangan.
“Kami kecewa dan menolak stadion digunakan untuk acara selain sepak bola. Stadion Bayuangga adalah rumah sepak bola Kota Probolinggo,” tegasnya.
Ia mengatakan, kekhawatiran itu wajar karena jika lapangan rusak, belum tentu perbaikannya cepat dilakukan sebelum kompetisi dimulai.
“Kami ingin ada kejelasan dari Dispopar soal tanggung jawab penyelenggara kalau sampai terjadi kerusakan, terutama pada lapangan setelah acara selesai,” lanjut Ali.
Ali juga menyebut selama ini belum pernah ada komunikasi antara pemerintah daerah dan suporter terkait kebijakan penggunaan stadion.
“Tidak pernah ada diskusi,” ujarnya singkat.
Suporter berharap pemerintah tidak hanya melihat stadion sebagai aset yang bisa disewakan, tetapi juga sebagai tempat pembinaan dan perkembangan sepak bola daerah.
“Kami berharap Stadion Bayuangga lebih diperhatikan, dan pemerintah juga peduli pada nasib Persipro musim depan dengan bekerja sama bersama pengurus dan suporter demi kemajuan sepak bola Kota Probolinggo,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Askot PSSI Kota Probolinggo, Eko Purwanto, mengatakan pihaknya masih menyewa stadion setiap tahun melalui Dispopar. Namun, soal kebijakan penggunaan stadion tetap menjadi wewenang pengelola.
“Askot PSSI masih menyewa stadion secara tahunan melalui Dispopar. Karena stadion menjadi kewenangan Dispopar, maka kebijakan ada di tangan mereka,” jelasnya melalui pesan singkat, Rabu (4/3/2026).
Hingga berita ini ditulis, Kepala Dispopar Kota Probolinggo, M. Abbas, belum memberikan jawaban atas konfirmasi yang diajukan.
Aksi Curva Sud ini menjadi tanda peringatan. Saat stadion lebih sering dipakai untuk hiburan, muncul pertanyaan dari publik: apakah sepak bola di Kota Probolinggo masih menjadi prioritas, atau justru mulai tersisih di kandangnya sendiri? (Rfl)






