PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Untuk menjaga dan melestarikan budaya lokal yang mulai jarang terlihat, Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Probolinggo menggelar Festival Patrol Ramadan 1447 Hijriyah. Kegiatan yang berlangsung di Kafe Asyik, Jalan Raya Mastrip, pada Sabtu malam (7/3/2026) ini menjadi wadah bagi para pecinta seni musik tradisional sekaligus ajang mempererat kebersamaan masyarakat Probolinggo Raya.
Ketua PC GP Ansor Kota Probolinggo, Salamul Huda, mengatakan bahwa festival ini memang dirancang dengan konsep tradisional. Dari 18 tim yang mendaftar, sebanyak 13 tim akhirnya tampil dalam perlombaan. Sementara beberapa tim lainnya tidak bisa ikut karena tidak memenuhi aturan panitia terkait penggunaan alat musik.
“Kami ingin menghidupkan kembali tradisi patrol seperti dulu, yang dimainkan dengan alat-alat sederhana. Aturannya jelas, peserta harus memakai alat musik tradisional. Tidak boleh menggunakan drum band, alat musik elektrik, ataupun kendaraan bermotor,” kata Salamul Huda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga menjelaskan bahwa peserta festival tidak hanya berasal dari Kota Probolinggo, tetapi juga dari wilayah Probolinggo Raya. Sekitar 70 persen peserta berasal dari Kota Probolinggo dan 30 persen lainnya dari Kabupaten Probolinggo. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat bisa kembali menjaga tradisi patrol dengan cara yang positif tanpa menimbulkan gangguan bagi warga.
Acara tersebut juga dihadiri Ketua PCNU Kota Probolinggo, Gubernur LSM LIRA Jawa Timur, serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Setelah melalui penilaian dari dewan juri yang meliputi kekompakan musik, kreativitas, dan keaslian alat yang digunakan, kelompok Ongklek Community berhasil meraih juara pertama dalam festival tersebut.
Koordinator Ongklek Community, Fahri, mengaku bersyukur dan bangga atas hasil yang diraih timnya. Menurutnya, festival ini bukan sekadar lomba, tetapi juga menjadi tempat bagi para pelaku seni untuk menampilkan kreativitas mereka dalam memainkan musik tradisional.
“Kami sangat senang ada lomba patrol seperti ini. Kegiatan ini memberi kesempatan bagi kami untuk menunjukkan kemampuan dalam seni musik tradisional, apalagi dengan aturan tanpa alat elektrik yang benar-benar menantang kreativitas kami,” ujar Fahri.
Ia berharap festival patrol seperti ini dapat terus diadakan setiap tahun dengan kualitas yang semakin baik. Melalui kegiatan ini, diharapkan musik patrol tetap dikenal dan dicintai oleh generasi muda di Probolinggo sebagai bagian dari identitas budaya daerah.*






