PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Umat Hindu Suku Tengger di kawasan Bromo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, merayakan Hari Saraswati sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, Sabtu (4/4/2026). Perayaan ini diisi dengan persembahyangan yang dilaksanakan di pura masing-masing desa.
Salah satu perayaan dipusatkan di Pura Sradha Bhakti, Dusun Kedampul, Desa Sapikerep. Umat Hindu setempat mengikuti rangkaian persembahyangan dengan khidmat sebagai wujud syukur atas anugerah ilmu pengetahuan yang diyakini sebagai sumber kehidupan dan kemajuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam perayaan Saraswati, berbagai sarana belajar seperti buku dan lontar disucikan sebagai simbol ilmu yang harus dijaga dan dimanfaatkan dengan baik. Nilai yang ditekankan tidak hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kebijaksanaan dalam berpikir dan bertindak.
Ketua PHDI Desa Sapikerep, Rujiyanto, menjelaskan bahwa Hari Saraswati bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan momentum refleksi diri dalam memaknai penggunaan ilmu pengetahuan.
“Saraswati merupakan wujud penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Ini bukan hanya tentang ritual, tetapi kesadaran bahwa ilmu harus digunakan secara bijak dan bertanggung jawab, serta menjadi sarana introspeksi sejauh mana ilmu dimanfaatkan untuk kebaikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pentingnya keseimbangan antara ilmu dan moral menjadi pesan utama dalam perayaan ini. Menurutnya, ilmu tanpa dilandasi etika dapat menyesatkan.
Persembahyangan bersama tersebut dipimpin para mangku dan dihadiri berbagai elemen masyarakat, termasuk pemuda-pemudi serta dukun adat Desa Sapikerep.
Salah satu generasi muda, Meyla, mengaku bersyukur dapat mengikuti perayaan Saraswati tahun ini. Ia juga mengajak umat Hindu, khususnya di Desa Sapikerep, untuk terus menjaga kekompakan dalam setiap kegiatan keagamaan.
“Perayaan Saraswati dilaksanakan setiap 210 hari sekali berdasarkan kalender Bali, tepatnya Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Kami berharap umat Hindu semakin kompak dan selalu hadir dalam setiap persembahyangan di pura,” tuturnya. (*)






