PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Beberapa Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Probolinggo mengaku keberatan dengan biaya sewa lapak pada Bazar Ramadan yang digelar di GOR A. Yani, Jalan dr. Soetomo, Kelurahan Tisnonegaran.
Mereka menyebut biaya sewa satu lapak mencapai Rp1 juta untuk 22 hari pelaksanaan. Dengan biaya tersebut, pedagang mendapat tenda ukuran 3 x 3 meter lengkap dengan fasilitas listrik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Keluhan para pedagang muncul karena kondisi ekonomi dinilai belum stabil. Selain itu, cuaca ekstrem yang sering terjadi akhir-akhir ini juga menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para penjual.
Menanggapi hal itu, Ketua Paguyuban PKL Kota Probolinggo, Munadi, saat dikonfirmasi pada Senin (23/2/2025) siang, menjelaskan bahwa bazar tersebut tidak diselenggarakan melalui paguyuban yang ia pimpin.
“Terkait bazar Ramadan di GOR A. Yani itu, monggo sampean hubungi EO-nya,” ujar Munadi.
Saat ditanya apakah penyelenggaraan dan penarikan biaya sewa dilakukan lewat paguyuban, ia menegaskan tidak.
“Mboten,” katanya singkat.
Munadi juga menilai biaya sewa yang ditetapkan cukup tinggi jika melihat situasi saat ini.
“Dengan ekonomi seperti sekarang dan cuaca yang ekstrem juga, dari pengalaman sebelumnya bazar Ramadan itu tidak pernah ada pendaftaran berbayar. Semua gratis dari DKUPP. Itupun tidak pernah sukses, bahkan areanya dulu di alun-alun. Apalagi sekarang Cuma di GOR,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut membuat para pedagang mempertanyakan dasar penentuan tarif serta perkiraan jumlah pengunjung selama 22 hari bazar berlangsung.
Sejumlah PKL berharap ada evaluasi terkait besarnya biaya sewa. Mereka khawatir jumlah pembeli sepi dan cuaca buruk bisa berdampak pada pendapatan selama bulan Ramadan.
Penulis: Rafel
Editor: Us






