PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Pihak SMA Negeri 4 Kota Probolinggo menyatakan duka cita mendalam atas meninggalnya salah satu peserta didik kelas X berinisial AFA (16).
Siswa tersebut sebelumnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di rumahnya yang berada di wilayah Kecamatan Kanigaran pada Rabu (7/1/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.
Almarhum diduga mengakhiri hidupnya akibat tekanan psikologis. Muncul dugaan awal bahwa faktor lingkungan sekolah turut berkontribusi terhadap kondisi mental korban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menanggapi berbagai spekulasi tersebut, pihak sekolah melalui Humas, Ibu Neni, bersama perwakilan bidang kurikulum, Bapak Eko Marta, memberikan penjelasan terkait keseharian almarhum sekaligus meluruskan informasi yang beredar di media sosial, Jumat (9/1/26).
Selama sekitar enam bulan menempuh pendidikan di SMA Negeri 4 Kota Probolinggo, almarhum dinilai memiliki kepribadian yang positif di lingkungan sekolah.
“Almarhum adalah anak yang supel, mudah bergaul, ceria, dan sangat aktif,” ungkap pihak sekolah.
Hubungan sosialnya dengan teman-teman juga dinilai baik, terlihat dari keterlibatannya dalam sejumlah kegiatan organisasi sekolah.
Selain mengikuti kegiatan ekstrakurikuler wajib Pramuka, almarhum juga tercatat sebagai anggota aktif Paskibra (FRC).
Pihak sekolah menegaskan bahwa sepanjang masa belajarnya, almarhum tidak pernah tercatat melakukan pelanggaran tata tertib maupun masalah kedisiplinan lainnya.
Pada Senin sebelum kejadian, almarhum masih terlihat mengikuti aktivitas belajar seperti biasa dan bahkan sempat berfoto bersama teman-teman sekelasnya.
Namun keesokan harinya, Selasa, almarhum meminta izin untuk pulang lebih awal sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WIB dengan alasan kondisi kesehatan yang kurang baik.
Setelah tidak masuk sekolah pada Rabu dengan keterangan sakit, pihak sekolah kemudian menerima kabar duka yang mengejutkan seluruh warga sekolah.
Pihak sekolah juga memberikan klarifikasi terkait isu perundungan yang ramai diperbincangkan di media sosial maupun pemberitaan.
Sekolah menegaskan memiliki komitmen tinggi terhadap pengawasan perilaku siswa di lingkungan pendidikan.
SMA Negeri 4 Kota Probolinggo juga menjadi satu-satunya sekolah di wilayah tersebut yang menerapkan Program Roots, sebuah program pencegahan perundungan dari Kemendikbudristek yang bekerja sama dengan UNICEF.
Atas pelaksanaan program tersebut, pihak sekolah bahkan sempat menerima undangan resmi ke Jakarta sebagai bentuk apresiasi.
“Kami memiliki Agen Perubahan Sekolah (APS) di setiap kelas untuk memastikan keamanan siswa dari perundungan,” ungkap Eko.
Pernyataan ini diperkuat oleh kesaksian ketua kelas almarhum yang menegaskan bahwa tidak ada praktik perundungan yang menimpa almarhum di lingkungan kelas.
Sementara itu, Kasatreskrim Polres Probolinggo Kota, AKP Zainal Arifin, menyampaikan kepada wartawan bahwa penyidik telah memeriksa empat saksi utama dalam perkara tersebut.
Para saksi yang dimintai keterangan terdiri dari pelapor, dua anggota keluarga almarhum, serta wali kelas almarhum.
“Berdasarkan keterangan saksi, fakta yang mengarah pada dugaan bullying belum kami temukan. Sebaliknya, korban dikenal sebagai sosok yang ramah, supel, dan aktif dalam berorganisasi di sekolahnya,” jelas AKP Zainal Arifin, Jumat (9/1/2026).
Penulis: Uswah
Editor: Us






