SURABAYA – Perayaan Paskah Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Surabaya bersama Himpunan Warga Kalimantan Tengah di Surabaya (HWKTS), Minggu (12/4/2026), berlangsung dalam nuansa hangat, khidmat, sekaligus penuh makna. Bertempat di Aula Hotel Kyrie Surabaya, kegiatan ini menjadi lebih dari sekadar ibadah tahunan—ia menjelma sebagai ruang kebersamaan lintas budaya yang menguatkan ikatan persaudaraan.
Mengangkat tema “Kristus Bangkit, Membarui Kemanusiaan Kita”, seluruh rangkaian acara diarahkan untuk mengajak jemaat merefleksikan arti kebangkitan sebagai momentum perubahan hidup. Tidak hanya dalam dimensi spiritual, tetapi juga dalam cara memandang dan memperlakukan sesama.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kekayaan budaya Kalimantan terasa kental mewarnai jalannya ibadah. Pembacaan firman Tuhan dalam bahasa Dayak Maanyan dan Dayak Ngaju menjadi salah satu momen yang menyentuh, terutama bagi para perantau. Bahasa daerah itu menghadirkan rasa kedekatan emosional, seolah membawa pulang ingatan akan tanah asal di tengah kehidupan kota besar.
Suasana semakin mendalam saat drama penyaliban Yesus ditampilkan. Pementasan tersebut mengundang keheningan dan perenungan, sebelum akhirnya disambung dengan penampilan tarian adat Mamalan dan Manantang yang penuh energi. Tarian ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol semangat, perjuangan, dan harapan akan kehidupan baru.
Pesan tentang pentingnya merawat kebersamaan juga mengemuka dalam perayaan ini. Grace Evi Ekawati mengingatkan bahwa Paskah seharusnya menjadi titik tolak untuk membangun sikap saling menerima di tengah perbedaan.
“Perbedaan itu bukan untuk dipisahkan, tetapi untuk disatukan dalam kebersamaan,” ungkapnya.
Ketua HWKTS, Kalmante Tibu, menilai kegiatan seperti ini memiliki arti penting bagi warga Kalimantan Tengah yang merantau di Surabaya. Menurutnya, komunitas menjadi tempat berbagi, saling menopang, serta menjaga nilai-nilai kebersamaan di tanah rantau.
Sementara itu, Ketua Panitia Thomas Tanjung menyebut perayaan Paskah sebagai momentum untuk mempererat hubungan antar sesama sekaligus memperkuat semangat kebersamaan yang telah terbangun.
Dalam pesan rohaninya, Pdt. Wono mengajak jemaat untuk benar-benar menghidupi makna “ciptaan baru” melalui tindakan nyata, seperti meningkatkan kepedulian dan kasih terhadap sesama. Senada dengan itu, Pdt. Isolina menekankan pentingnya pendekatan kreatif melalui seni agar pesan iman dapat lebih mudah diterima, khususnya oleh generasi muda.
Perayaan ini juga mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Frans Huwae dari FPK Jawa Timur melihat kegiatan tersebut sebagai wujud nyata toleransi yang hidup di tengah masyarakat majemuk.
Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Pdt. Ferry J.A. Raintung dari GPIB Jawa Timur, Drs. Yansen Alison Binti, MBA selaku tokoh masyarakat Kalimantan Tengah dan Ketua Umum DPN Gerakan Pemuda Dayak Indonesia, serta perwakilan LPMI Surabaya Dr. Wahyu Heru Lukito bersama Ev. Terry Octavianus.
Perayaan Paskah malam itu tidak hanya berlangsung dalam balutan liturgi, tetapi juga dalam kehangatan interaksi antar sesama. Tawa, sapaan, dan pertunjukan budaya menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana yang tercipta.
Di tengah keberagaman yang hadir, satu hal menjadi benang merah: kebersamaan. Bahwa di perantauan, mereka tetap dapat menemukan rumah—dalam persaudaraan yang terjalin erat tanpa sekat perbedaan.






