Suarabayuangga.com – Pembangunan hotel dan kafe di Jalan Brigjen Katamso, RT 02, RW 12, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo ini membuat warga sekitar resah. Pasalnya, ada pemukiman penduduk yang berada tepat disamping dan belakang proyek tersebut.
Hadiyanto, sebagai penduduk setempat mengaku khawatir dengan berjalannya proyek tersebut. Selain lokasinya yang tepat berdempetan dengan rumahnya, jam operasionalnya juga sangat mengganggu ketika sedang beristirahat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bahkan, dari proyek yang berlangsung bertahun-tahun itu material bangunannya sering jatuh ke rumah warga. Mereka meminta agar proyek dihentikan.
Proyek itu sudah berlangsung di era Wali Kota Probolinggo Rukmini di tahun 2013. Namun, banyak warga yang menentang proyek tersebut, sehingga dihentikan.
“Kemudian di era Wali Kota Hadi Zainal Abidin, proyek tersebut kembali menjadi polemik dan tidak dilanjutkan. Baru, di tahun 2025 ini proyek dilanjutkan,” Terangnya, pada sabtu (12/4/2025) sore.
Saat ditinjau ke lokasi, proyek bangunan tersebut memiliki lima lantai. Ada tukang yang bekerja. Jarak dari rumah warga memang berdekatan. Bahkan ada beberapa rumah yang menempel dengan tembok proyek. Salah satunya rumah Hadiyanto.
Warga RT 4 – RW 12 itu rumahnya seringkali kejatuhan material bangunan. Ia bercerita sudah berkali-kali atap dan langit-langit rumahnya bolong.
“Meski sebesar lingkaran telunjuk dan jempol, tetap saja itu bolong kan,” ujarnya.
Hadiyanto dan keluarganya sampai was-was setiap malam sebelum tidur. Ia khawatir jika tertidur namun kejatuhan material bangunan.
“Alhamdulillah selama ini belum pernah kalau pas tidur, dan meskipun setiap kerugian diganti oleh pihak perusahaan, tapi kan takut juga,” Tuturnya.
Senada juga diucapkan Widarni yang rumahnya juga berada di belakang proyek. Ia bertanya-tanya mengapa proyek tetap dilanjutkan, padahal warga tidak setuju.
“Dari jaman suami saya masih hidup, saya dan suami getol gak mau proyek dilanjutkan,” ucapnya.
Menurutnya, ia telah mengadu pada RT, RW dan Kelurahan Mangunharjo. Namun, tidak pernah ada perubahan.
“Mau sampai kapan kami dizalimi. Kalau misal tidak bisa berhenti pembangunannya, ya tolong jalan keluarnya bagaimana? Saya takut tiap malam tidak bisa tidur,” Ungkapnya.
Dilain sisi, Lurah Mangunharjo Hari Setiyo Yani mengatakan tidak tahu jika ada pembangunan. Namun, ia ingat pernah menyampaikan aspirasi warganya yang menolak kepada Dinas Pembangunan, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPR-PKP) Kota Probolinggo.
“Memang betul saat itu ada warga yang menolak,” Ucapnya saat ditemui.
Namun, setelah menyampaikan aspirasi tersebut, pihak perusahaan justru membawa surat berisi tanda tangan persetujuan.
“Sehingga kami merasa, loh kok sudah setuju. Berarti kan warga mau. Jadi selanjutnya sampean tanyakan ke PUPR saja,” katanya.
Kepala Dinas PUPR-PKP Kota Probolinggo Setyorini Sayekti saat dikonfirmasi, mengatakan belum ada rekomendasi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) ke pihaknya.
“Hanya ada Keterangan Rencana Kota (KRK) dengan kategori bersyarat,” Katanya melalui pesan singkat,
Rini mengatakan tidak mengetahui jika ada aktivitas pembangunan. Ia akan memeriksanya.
“Kami cek dulu,” Pungkasnya.
Sementara itu, Direktur PT Linggo Area Fariz Dwi Wahyu, mengatakan, pembangunan yang saat ini kembali berjalan, pihaknya sudah sesuai dengan aturan – aturan dan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Probolinggo.
Bahkan untuk kompensasi warga setempat pun kami selalu memberikan kompensasi, baik itu sumbangsih organisasi kemasyarakatan seperti posyandu dan lainnya, kami juga sudah berusaha menanggung,” Terangnya, saat ditemui di lokasi proyek, pada senin (14/4/2025) siang.
Bahkan beberapa tahun lalu, saat pembangunan sempat terhenti karena kebijakan kepala daerah sebelumnya, pihaknya juga menanggung semua kerusakan apapun yang terjadi pada rumah warga.
“Seperti kebocoran atap rumah, meskipun itu bukan disebabkan dari bangunan ini, kami tidak pernah gimana – gimana, dan langsung kami bantu dengan nominal rupiah,” Tambahnya.
Menyangkut tentang persetujuan warga sekitar, saat ini sudah ada 28 Kepala Keluarga yang sudah menandatangani dan menyetujui adanya pembangunan hotel tersebut.
“Kami memang sebelumnya sudah Meminta persetujuan warga, toh banyak juga yang setuju untuk melanjutkan pembangunan itu,” Tuturnya.
Hanya saja ada satu warga yang tidak setuju dengan berlanjutnya pembangunan hotel tersebut. Warga yang tidak setuju itu meminta untuk rumahnya dibeli dengan harga sekitar 300 juta.
Dinilai harga yang dinilai terlalu tinggi, pihak hotel pun merasa keberatan. Namun memberi jalan tengah, mau untuk membeli, namun tidak dengan nominal tersebut.
“Kami sudah berusaha bernegosiasi, namun mereka tidak mau, ya sudah kami pun tetap melanjutkan pembangunan, karena jika pembangunan ini tidak dilanjut, kami hanya bisa menyumbang warga saja, sedangkan kondisi konstruksi, kalau dibiarkan seperti ini ya tentu semakin membahayakan,” Ungkapnya.
Fariz juga menjelaskan, bahwa terkait Instansi Pengolahan Air Limbah (IPAL) bangunan yang bakal menjadi Hotel Magnet 27 itu sudah mau keluar.
“Jadi sudah tidak ada masalah lagi, bahkan nantinya, untuk para pekerjanya, kami memprioritaskan untuk warga Kota Probolinggo, mohon doanya saja,” Tandasnya.(Red)