Nyepi dan Idulfitri Beriringan, Bromo Ditutup Total Demi Jaga Kesucian Ritual

- Jurnalis

Rabu, 18 Maret 2026 - 13:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Tahun 2026 menghadirkan momen yang tidak biasa. Perayaan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 19 Maret berlangsung beriringan dengan Hari Raya Idulfitri. Di tengah situasi tersebut, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo mengambil langkah tegas dengan menutup seluruh akses menuju kawasan Gunung Bromo.

Kebijakan ini diberlakukan untuk memastikan umat Hindu Tengger dapat menjalankan Catur Brata Penyepian secara khusyuk, tanpa gangguan aktivitas luar, termasuk lonjakan wisatawan yang umumnya terjadi saat libur Lebaran.

Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto, menyebut keputusan ini merupakan hasil koordinasi lintas daerah bersama PHDI di Pasuruan, Lumajang, dan Malang, serta instansi terkait lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Meski bertepatan dengan Idulfitri, pelaksanaan Nyepi tetap harus berjalan sesuai ketentuan. Karena itu, kawasan Bromo kami sterilkan sementara dari seluruh aktivitas,” ujarnya, pada rabu (18/3/2026) siang, melalui pesan singkat.

Penutupan dilakukan selama 24 jam penuh, dimulai pada 19 Maret 2026 pukul 06.00 WIB hingga 20 Maret 2026 pukul 06.00 WIB. Selama rentang waktu tersebut, tidak ada akses masuk dari berbagai jalur menuju kawasan Bromo.

Adapun titik penutupan meliputi Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo; Desa Baledono dan Mororejo, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan; serta kawasan Jemplang di Desa Ngadas, Kabupaten Malang.

PHDI mengimbau masyarakat, khususnya wisatawan yang memanfaatkan libur Idulfitri, untuk menyesuaikan rencana perjalanan dan tidak memaksakan diri menuju Bromo saat Nyepi berlangsung.

Menurut Bambang, bertepatan dua hari besar keagamaan ini justru menjadi momentum untuk memperkuat nilai toleransi di tengah masyarakat.

“Ini bukan soal siapa yang didahulukan, tapi bagaimana semua pihak bisa saling menghormati. Dengan begitu, kerukunan tetap terjaga,” tegasnya.

Penutupan sementara kawasan Bromo ini diharapkan dapat dipahami bersama sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara tradisi, spiritualitas, dan kehidupan sosial di kawasan Suku Tengger. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Insentif Guru Ngaji di Probolinggo Diperluas, LIRA: Ini Langkah Positif Wali Kota
GP Ansor Ranting Kelurahan Sumbertaman Salurkan Zakat
Perum Bulog Probolinggo Salurkan Bantuan Pangan Perdana Tahun 2026
Layanan Mudik Santri Dipermudah, Ponirin Mika Puji Koordinasi Syahbandar dan Forkopimda
Sikapi Keterlambatan Honor Guru Ngaji, FPDI Perjuangan Probolinggo Desak Percepatan dan Perbaikan Sistem
Pemkab Probolinggo Tegaskan Larangan ASN Pakai Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran
11 SPPG di Kabupaten Probolinggo Ditutup Sementara, Sekda: Tunggu Pemenuhan Syarat SLHS
Mudik Lebaran Lebih Cepat, Tol Prosiwangi Kraksaan–Besuki Difungsikan Sementara
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 18 Maret 2026 - 23:29 WIB

Insentif Guru Ngaji di Probolinggo Diperluas, LIRA: Ini Langkah Positif Wali Kota

Rabu, 18 Maret 2026 - 13:05 WIB

Nyepi dan Idulfitri Beriringan, Bromo Ditutup Total Demi Jaga Kesucian Ritual

Rabu, 18 Maret 2026 - 10:48 WIB

GP Ansor Ranting Kelurahan Sumbertaman Salurkan Zakat

Rabu, 18 Maret 2026 - 10:46 WIB

Perum Bulog Probolinggo Salurkan Bantuan Pangan Perdana Tahun 2026

Rabu, 18 Maret 2026 - 10:37 WIB

Layanan Mudik Santri Dipermudah, Ponirin Mika Puji Koordinasi Syahbandar dan Forkopimda

Berita Terbaru

Probolinggo

GP Ansor Ranting Kelurahan Sumbertaman Salurkan Zakat

Rabu, 18 Mar 2026 - 10:48 WIB