PROBOLINGGO – Kerja panjang pembinaan atlet daerah akhirnya berbuah prestasi internasional. Aprianto (23), atlet dayung asal Kota Probolinggo, sukses mempersembahkan medali perak SEA Games 2025 untuk Indonesia pada nomor Rowing Men’s Lightweight Pair di Rayong, Thailand, Rabu (17/12/2025).
Berpasangan dengan Ferdiansyah, Aprianto tampil solid sejak start hingga finis di Pusat Latihan Dayung-Kano Royal Thai Navy. Duet Indonesia mencatatkan waktu 7 menit 59,736 detik, hanya terpaut tipis dari pasangan Vietnam Hoang Van Dat/Nguyen Phu yang merebut emas dengan 7 menit 53,080 detik. Medali perunggu diamankan tuan rumah Thailand lewat catatan 8 menit 8,138 detik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua PODSI Kota Probolinggo Sugito Prasetyo menegaskan, Aprianto adalah satu-satunya wakil Kota Probolinggo di cabang dayung pada SEA Games tahun ini. Prestasi tersebut, kata dia, merupakan hasil proses panjang, bukan keberhasilan instan.
“Aprianto berangkat dari nol. Sejak bergabung dengan PODSI Kota Probolinggo tahun 2022, dia langsung membuktikan kualitasnya di Porprov dengan dua emas. Dari situ pembinaannya berjenjang hingga Pelatnas,” ujar Sugito.
Menuju SEA Games, Aprianto lebih dulu digembleng melalui Pemusatan Latihan Nasional di Waduk Jatiluhur selama hampir setahun. Pada PON Aceh 2024, ia kembali menunjukkan konsistensi dengan meraih perak yang mengantarkannya lolos seleksi Pelatnas.
“Menjelang SEA Games, dia juga mengikuti uji coba internasional di China dan kembali membawa perak. Ini menunjukkan daya saingnya stabil di level internasional,” tambahnya.
Namun, tidak semua cabang dari Kota Probolinggo bernasib sama. Atlet panjat tebing Bomantara Bintang Prayuda (18) yang turun di nomor Boulder harus tersingkir sebelum final dan belum mampu menyumbang medali.
Ketua Harian FPTI Kota Probolinggo Iwan Rosidi mengakui faktor teknis menjadi kendala utama. Meski poin sama, jumlah percobaan yang lebih banyak membuat atlet Indonesia kalah bersaing.
“Pembacaan jalur belum maksimal, sehingga harus mencoba berulang-ulang. Ini berpengaruh langsung pada hasil,” jelas Iwan.
Ia juga menyoroti kesenjangan kualitas jalur Boulder Indonesia dibanding negara pesaing seperti Thailand, Singapura, dan Filipina.
“Ini jadi alarm evaluasi serius. Di Boulder kita tertinggal, sementara di nomor lead dan speed Indonesia masih relatif unggul,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum KONI Kota Probolinggo Zulfikar Imawan menilai capaian Aprianto menjadi bukti bahwa pembinaan atlet daerah, jika dilakukan secara konsisten, mampu melahirkan prestasi internasional.
“Medali ini bukan hanya milik Aprianto, tapi juga hasil kerja panjang pembinaan olahraga di Kota Probolinggo. Ini menjadi motivasi sekaligus tantangan untuk cabang lain agar bisa menyusul,” pungkasnya.






