PROBOLINGGO, suarabayuangga.com – Maraknya kasus bunuh diri di kalangan pelajar bukanlah persoalan mental yang rapuh, melainkan tanda keras adanya tumpukan beban psikologis yang dibiarkan tanpa ruang aman untuk didengar.
Dosen Psikologi Institut Ahmad Dahlan Kota Probolinggo, Aries Dirgayunita, menegaskan bahwa hampir seluruh kasus bunuh diri remaja tidak pernah dipicu oleh satu sebab tunggal. Tekanan akademik, rasa kesepian, dan lingkungan yang abai terhadap kesehatan mental menjadi kombinasi berbahaya yang kerap luput dari perhatian.
“Remaja yang bunuh diri bukan lemah. Mereka kelelahan menanggung beban yang tidak terlihat,” tegas Aries, pada minggu (11/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ironisnya, banyak korban justru tampil sebagai pribadi yang tenang, penurut, bahkan dianggap tidak bermasalah. Sikap diam ini, menurut Aries, sering disalahartikan sebagai kondisi baik-baik saja, padahal justru merupakan sinyal bahaya paling serius. Fenomena tersebut dikenal sebagai masking—menyembunyikan luka batin di balik kepatuhan dan senyum.
Bagi remaja, kebutuhan untuk diterima oleh lingkungan sosial setara dengan kebutuhan dasar. Ketika penolakan, pengabaian, atau perasaan tidak dianggap terjadi terus-menerus, rasa putus asa tumbuh secara perlahan namun mematikan.
Masalah semakin pelik ketika remaja takut bercerita. Stigma, penghakiman, dan anggapan bahwa keluhan mental hanyalah “drama” membuat mereka memilih diam. Dalam kondisi terdesak, bunuh diri dipersepsikan sebagai satu-satunya jalan untuk menghentikan rasa sakit.
“Di sinilah peran orang dewasa sering gagal. Kita terlalu cepat menilai, terlalu lambat mendengar,” kata Aries.
Secara psikologis, Aries memetakan empat alasan utama yang kerap mendorong remaja menuju tindakan bunuh diri.
Pertama, logika yang belum matang. Emosi remaja ibarat pedal gas yang diinjak penuh, sementara rem logika belum berfungsi optimal. Tekanan emosional membuat mereka bertindak impulsif tanpa melihat kemungkinan solusi lain.
Kedua, pikiran yang menyempit. Saat stres berat, cara berpikir remaja mengerucut seperti lubang jarum. Masalah terasa seperti kiamat, masa depan dianggap tertutup. “Mereka bukan ingin mati, mereka ingin rasa sakitnya berhenti sekarang juga,” ujarnya.
Ketiga, luka sosial yang brutal. Penolakan teman, kesepian, dan perasaan menjadi beban keluarga menimbulkan rasa sakit sosial yang sama nyatanya dengan luka fisik. Dari sini, muncul dorongan untuk “menghilang”.
Keempat, amarah yang berbalik ke diri sendiri. Ketika tidak tahu cara meluapkan marah dan kecewa, remaja menyalahkan diri secara ekstrem. Bunuh diri dipahami sebagai hukuman bagi diri mereka sendiri.
Dari perspektif psikologi agama, Aries menilai pikiran remaja dapat jatuh ke titik paling gelap ketika iman tidak lagi memberi rasa aman.
Krisis harapan membuat mereka merasa sendirian tanpa sandaran spiritual. Rasa bersalah berlebihan atas dosa atau kegagalan memenuhi standar agama memperkuat keinginan untuk “menghilang”. Kondisi ini diperparah oleh stigma keliru bahwa depresi adalah tanda kurang iman, yang justru menutup akses bantuan psikologis dan spiritual secara bersamaan.
Aries menutup dengan peringatan keras bagi lingkungan terdekat remaja. Orang tua, guru, dan masyarakat diminta berhenti menghakimi dan mulai hadir sebagai pendengar yang aman.
“Diam bukan berarti baik-baik saja. Dan mencari bantuan bukan kelemahan, melainkan keberanian untuk bertahan hidup,” pungkasnya.
Penulis: Rapel
Editor: Us






