Publik Terbelah, GP Ansor Probolinggo Soroti Peluang Soeharto Jadi Pahlawan Nasional

- Jurnalis

Senin, 17 November 2025 - 22:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO – Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kota Probolinggo menggelar Diskusi Publik Kepahlawanan bertema “Antara Bapak Pembangunan dan Gelar Pahlawan”, pada Senin (17/11), di Café Asyiq. Acara ini menghadirkan empat narasumber: Harmoko, H. Musaffa Safril ketua PW Ansor Jawa Timur, Dedi Bayu Angga, dan Salamul Huda sebagai Ketua PC Ansor Kota Probolinggo, serta diikuti akademisi, aktivis, tokoh masyarakat, dan mahasiswa.

Diskusi berlangsung dinamis, memotret bahwa wacana penganugerahan gelar pahlawan bagi Presiden Soeharto masih menimbulkan perdebatan publik, baik dari sisi historis maupun moralitas politik.

Dalam pemaparannya, Harmoko menegaskan bahwa Soeharto memiliki jasa besar dalam pembangunan nasional. Ia menyebut stabilitas negara, swasembada pangan, industrialisasi, hingga pembangunan desa sebagai pencapaian yang masih dirasakan hingga kini. Menurutnya, capaian tersebut layak menjadi pertimbangan dalam wacana gelar pahlawan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun pendapat berbeda disampaikan Dedi Bayu Angga. Ia menilai, perjalanan Orde Baru juga membawa catatan serius terkait pelanggaran HAM, pembungkaman demokrasi, dan penyempitan kebebasan sipil.

“Gelar pahlawan tidak bisa diberikan hanya dengan melihat prestasi. Kejujuran sejarah harus menjadi landasan,” ujarnya.

Salamul Huda mengajak publik untuk melihat Soeharto secara proporsional. Menurutnya, figur Soeharto terdiri dari dua sisi: keberhasilan besar dan sisi kelam yang tidak boleh dihapus. Ia menegaskan perlunya membaca sejarah secara objektif, tanpa glorifikasi maupun kebencian berlebihan.

Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, H. Musaffa Safril, menyatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa memaafkan tanpa menghapus ingatan. Ia menilai diskusi terkait Soeharto harus menjadi ruang rekonsiliasi, bukan memperlebar jarak antargenerasi.

“Menempatkan jasa dan kekurangan secara proporsional adalah bentuk kedewasaan bangsa. Jika gelar pahlawan diberikan, itu seharusnya menjadi simbol kematangan kolektif,” tegas Musaffa.

Diskusi semakin memanas ketika peserta mengajukan pertanyaan mengenai kesiapan bangsa berdamai dengan luka sejarah. Sebagian peserta menilai gelar pahlawan bagi Soeharto layak mengingat kontribusinya dalam pembangunan. Namun peserta lain mengingatkan, gelar itu bisa memunculkan polemik baru bila tidak diiringi dengan pengakuan atas kesalahan masa lalu.

Menjelang akhir diskusi, para narasumber sepakat bahwa gelar pahlawan bagi Soeharto bisa diterima sebagai langkah rekonsiliasi bangsa—dengan catatan memori sejarah tetap dijaga. Gelar tersebut tidak dimaknai sebagai pemutihan masa lalu, tetapi bentuk penghargaan atas jasa besar yang pernah diberikan.

Konsensus tersebut dinilai sebagai wujud kedewasaan nasional dalam menilai sejarah secara proporsional.

Gelaran diskusi ini menegaskan bahwa perdebatan wacana kepahlawanan bukan sekadar persoalan gelar, tetapi proses pembelajaran nasional. PC GP Ansor Kota Probolinggo berharap ruang-ruang diskusi serupa terus digelar sebagai bagian dari literasi kebangsaan serta upaya memperkuat kedewasaan publik dalam membaca sejarah Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Sampah Menggunung Ratusan Meter, Masyarakat Kesulitan Melintas 
Larangan Mancing di Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo Diprotes, Warga: Tak Relevan dan Tak Masuk Akal
Motor Dicongkel di GOR Mastrip, Komisioner KPU Kota Probolinggo Kehilangan HP dan Dompet
Komisi III DPRD Kota Probolinggo Kawal Ketat Seleksi Pimpinan BAZNAS 2026–2031
35 Warga Kota Probolinggo Laporkan Biro Umroh ke Polisi, Puluhan Juta Raib Tak Pernah Berangkat
Dituding Abai Bencana dan Pesta Ultah di Jam Kerja, PMII Kepung DPRD Probolinggo: Ketua DPRD Diminta Dicopot
TRAGEDI DI WISATA KUM-KUM PROBOLINGGO, LANSIA ASAL PASURUAN TEWAS SAAT BERENDAM
Polres Probolinggo Kota Gelar Operasi Keselamatan Semeru 2026, Tekankan Pendekatan Humanis dan Tegas
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 15:17 WIB

Sampah Menggunung Ratusan Meter, Masyarakat Kesulitan Melintas 

Rabu, 4 Februari 2026 - 13:07 WIB

Larangan Mancing di Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo Diprotes, Warga: Tak Relevan dan Tak Masuk Akal

Selasa, 3 Februari 2026 - 19:31 WIB

Motor Dicongkel di GOR Mastrip, Komisioner KPU Kota Probolinggo Kehilangan HP dan Dompet

Selasa, 3 Februari 2026 - 05:48 WIB

Komisi III DPRD Kota Probolinggo Kawal Ketat Seleksi Pimpinan BAZNAS 2026–2031

Senin, 2 Februari 2026 - 20:01 WIB

35 Warga Kota Probolinggo Laporkan Biro Umroh ke Polisi, Puluhan Juta Raib Tak Pernah Berangkat

Berita Terbaru